Perempuan: Krisis kesehatan publik memburuk karena lebih banyak pekerja yang ikut mogok

Krisis kesehatan tubuh masyarakat di Kenya diperkirakan hendak memburuk mulai hari ini kala para dokter bergabung dengan perawat dan petugas klinis dalam pemogokan nasional.

Petugas kesehatan menuntut kondisi kerja dengan lebih baik, perlindungan medis dan asuransi, mempekerjakan lebih banyak aparat kesehatan dan penyediaan alat pelindung diri yang berkualitas dan penuh di tengah pandemi virus corona.

Pemogokan oleh perawat dan petugas klinis mengikuti minggu ketiga hari ini.

Para dokter mencuaikan persatuan mereka mengatakan beberapa pertemuan selama delapan bulan terakhir gagal membuahkan hasil.

Sekretaris Kabinet Kesehatan Mutahi Kagwe pada hari Jumat memerintahkan aparat kesehatan yang mogok untuk meneruskan tugas, kegagalan mereka akan dipecat tetapi mereka tetap bersikeras menuduh pemerintah lalai.

Statistik dari kementerian kesehatan Perempuan menunjukkan bahwa setidaknya 2. 700 petugas layanan kesehatan di negeri itu telah tertular COVID-19 masa menjalankan tugas, dengan 13 tabib, sembilan petugas klinis dan 29 perawat meninggal karena penyakit tersebut.

Di antara mereka yang meninggal adalah seorang dokter magang berusia 28 tahun, yang telah bekerja selama lima bulan tanpa bayaran. Dr Stephen Mogusu akan dimakamkan hari tersebut.

Dokter menjaga kolega

Sebelumnya pada kamar Desember, dokter di Kenya melaksanakan nyala lilin untuk menghormati pasar mereka yang meninggal karena COVID-19. Bilamana kematiannya, Dr Stephen Mogusu yang berusia 28 tahun, seorang dokter magang, belum menerima gajinya selama lima bulan dan tempat tidak memiliki perlindungan medis.

Dia menjadi sinse ke-13 yang meninggal saat mematuhi tugas, yang menurut rekan-rekannya adalah karena kegagalan pemerintah untuk menyimpan alat yang diperlukan untuk menyimpan mereka.